LAPORAN PRAKTIKUM
APLIKASI TEKNIK LABORATORIUM EVALUASI MUTU PANGAN
BERDASARKAN MINYAK GORENG YANG DIGUNAKAN
KELOMPOK V
ERVAN TOGATOROP G31113302
DWI MULTI MAIGAWARTY G31113309
HASRAH G311130
ST HASRAWATI TAYANG G311130
RIA MANGALLA G311135
LABORATORIUM KIMIA ANALIASA DAN
PENGAWASAN MUTU PANGAN
PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI
PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahan pangan yang dikonsumsi sehari-hari seringkali tidak kita
ketahui mengandung senyawa-senyawa kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Memang
secara kasat mata tampak sekilas tampilan dari bahan pangan tersebut seperti
tidak mengandung apa-apa ,tapi jika di teliti lebih lanjut kebanyakan
yang dikandung dari sebagian bahan pangan adalah zat-zat ataupun
senyawa-senyawa yang yang dapat bersifat toxin atau racun.
Asam lemak bebas ( ALB ) sebagai suatu asam yang
dibebaskan pada hidrolisis asam oleh enzim. Proses hidrolisis dikatalisis oleh
enzim lipase yang juga terdapat didalam buah tetapi berada diluar sel yang
mengandung minyak. Jika dinding sel pecah atau rusak, maka enzim aka
bersinggungan dengan minyak maka reaksi hi
B. Tujuan dan Kegunaan Praktikum
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui kandungan
asam lemak bebas yang ada pada suatu bahan pangan.
2. Untuk mengetahui besaran total polar material pada suatu bahan
pangan.
3. Untuk mengetahui jumlah bilangan IOD pada suatu bahan pangan.
Kegunaan dari praktikum ini adalah agar kita dapat
mengetahui cara menghitung kandungan asam lemak
bebas yang terkandung dalam bahan pangan dan agar penerapannya dalam penelitian atau praktikum lainnya
dalam laboratorium sudah bisa dilakukan sendiri.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Minyak Goreng
Minyak adalah zat atau
bahan yang tidak larut dalam air yang berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan
dan merupakan campuran dari gliserida-gliserida dengan susunan asam-asam lemak
yang tidak sama. Komponen-komponen lain yang mungkin terdapat pada minyak
meliputi fosfolipid, sterol, vitamin dan zat warna, yang larut dalam lemak
seperti klorofil dan karatenoid. Minyak adalah suatu kelompok dari lipida
sederhana terbesar yang merupakan ester dari tiga molekul asam lemak dengan satu
molekul gliserol dan membentuk satu molekul trigliserida yang dalam kondisi
ruang (>27oC) akan berbentuk cair (Genisa, 2013).
Minyak goreng adalah
lemak yang digunakan untuk medium penggoreng. Secara umum, di pasaran
ditawarkan dua macam minyak goreng: minyak goreng nabati yang berasal dari
tanaman dan hewani berasal dari hewan. Saat ini yang paling umum digunakan di
Indonesia, adalah minyak yang berasal dari nabati (Hariskal, 2009).
Minyak goreng yang
baik memiliki standar mutu yang telah ditentukan oleh SNI. Standar mutu minyak
goreng, telah dirumuskan dan ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional
(BSN). Standar mutu tersebut yaitu SNI 01-3741-2002, SNI ini merupakan revisi
dari SNI 01-3741-1995, menetapkan bahwa standar mutu minyak goreng seperti pada
Tabel 1 berikut ini:
III.
Tabel 03. SNI 01-3741-2002
tentang Standar Mutu Minyak Goreng
|
KRITERIA UJI
|
SATUAN
|
SYARAT
|
|
Keadaan bau, warna dan rasa
|
-
|
Normal
|
|
Air
|
% b/b
|
Maks 0.30
|
|
Asam lemak bebas (dihitung sebagai asam laurat)
|
% b/b
|
Maks 0.30
|
|
Bahan Makanan Tambahan
|
Sesuai SNI. 022-M dan Permenkes
No. 722/Menkes/Per/IX/88
|
|
|
Cemaran Logam :
- besi (Fe)
- tembaga (Cu)
- raksa (Hg)
- timbal (Pb)
- timah (Sn)
- seng (Zn)
|
Mg/kg
Mg/kg
Mg/kg
Mg/kg
Mg/kg
Mg/kg
|
Maks 1.5
Maks 0.1
Maks 0.1
Maks 40.0
Maks0.005
Maks 40.0/250.0)*
|
|
Arsen (As)
|
% b/b
|
Maks 0.1
|
|
Angka Peroksida
|
% mg 02/gr
|
Maks 1
|
|
Catatan * Dalam kemasan kaleng
|
||
Sumber : Standar Nasional Indonesia
Begitu banyak jenis
minyak yang beredar di pasaran saat ini. Di antaranya minyak bermerek, minyak
kelapa sawit, minyak curah dan lain-lain.Dari segi kandungan, minyak curah
kadar lemaknya lebih tinggi dan juga kandungan asam oleat dibanding minyak
kemasan (Citra, 2007).
Mulai dari proses
produksi, minyak goreng kemasan selalu melalui dua kali penyaringan, sedangkan minyak
goreng curah hanya melalui proses penyaringan satu, atau hanya sampai pada
tahap olein saja, sehingga masih mengandung minyak fraksi padat. Perbedaan
proses ini pula yang kemudian menyebabkan warna minyak goreng kemasan lebih
jernih dari minyak goreng curah. Adapun dari segi kandungannya, kadar lemak dan
asam oleat pada minyak curah juga lebih tinggi dibanding minyak kemasan
(Cemerlang, 2013).
Ketika memilih minyak
goreng ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan menurut Citra (2007), yaitu:
1. Minyak goreng harus
memiliki umur pakai yang lama dan ekonomis.
2. Tahan terhadap tekanan
oksidatif.
3. Memiliki kualitas
seragam.
4. Mudah untuk digunakan,
baik dari segi bentuk (fluid shortening lebih mudah dari pada solid shortening) maupun dari kemudahan
pengemasan.
5. Memiliki titik asap
yang tinggi dan kandungan asapnya rendah setelah digunakan untuk menggoreng.
6. Mengandung flavor alami dan tidak
menimbulkan off flavor pada produk yang digoreng.
7. Mampu menghasilkan
tekstur, warna, dan tidak menimbulkan pengaruh greasy pada permukaan produk.
Sifat fisik dan Kimia Minyak
Sifat-sifat minyak
goreng dibagi ke sifat fisik dan kimia. Sifat fisik terdiri dari warna, odor dan flavor, kelarutan, titik
cair dan polymorphism, titik didih (boiling point), titik lunak (softening
point), slipping point, shot melting point, bobot jenis, indeks bias, titik asap, dan titik kekeruhan (turbidity
point). Sedangkan sifat kimia terdiri dari hidrolisa, oksidasi,
hidrogenasi, dan esterfikasi (Anonim, 2011).
Odor dan flavor, terdapat secara
alami dalam minyak dan juga terjadi karena pembentukan asam-asam yang berantai
sangat pendek.Kelarutan, minyak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (castor
oil), dan minyak sedikit larut dalam alkohol, etil eter, karbon disulfida
dan pelarut-pelarut halogen. Titik cair dan polymorphism,
minyak tidak mencair dengan tepat pada suatu nilai temperatur tertentu. Polymorphism adalah keadaan dimana terdapat lebih dari satu bentuk kristal.
Titik didih (boiling point), titik didih akan semakin meningkat dengan
bertambah panjangnya rantai karbon asam lemak tersebut. Titik lunak (softening
point), dimaksudkan untuk identifikasi minyak tersebut. Sliping point, digunakan untuk pengenalan minyak serta
pengaruh kehadiran komponen-komponennya. Shot melting point, yaitu temperatur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak
atau lemak. Bobot jenis, biasanya ditentukan pada temperature 25˚C, dan juga
perlu dilakukan pengukuran pada temperatur 40˚C. Titik asap, titik nyala dan
titik api, dapat dilakukan apabila minyak dipanaskan. Merupakan kriteria mutu
yang penting
dalam hubungannya dengan minyak yang akan digunakan untuk menggoreng. Titik kekeruhan (turbidity point), ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran minyak dengan pelarut lemak (Anonim, 2009).
dalam hubungannya dengan minyak yang akan digunakan untuk menggoreng. Titik kekeruhan (turbidity point), ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran minyak dengan pelarut lemak (Anonim, 2009).
Sifat kimia minyak
terdiri dari reaksi hidrolisa, minyak akan diubah menjadi asam-asam lemak bebas
dan gliserol, reaksi hidrolisa yang dapat mengakibatkan kerusakan minyak atau
lemak terjadi karena terdapat sejumlah air dalam minyak atau lemak, sehingga
akan mengakibatkan rasa dan bau tengik pada minyak tersebut. Reaksi oksidasi
dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen peda minyak atau
lemak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada
minyak. Proses hidrogenasi sebagai suatu proses industri bertujuan untuk
menjenuhkan ikatan rangkap dari rantai karbon asam lemak pada minyak atau
lemak. Reaksi hidrogenasi ini dilakukan dengan menggunakan hidrogen murni dan
ditambahkan serbuk nikel sebagai katalisator. Setelah proses hidrogenasi
selesai, minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan penyaringan.
Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras, tergantung pada
derajat kejenuhannya. Proses esterifikasi bertujuan untuk mengubah asam-asam lemak
dari trigliserida dalam bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan
melalui reaksi kimia yang disebut interesterifikas atau pertukaran ester yang
didasarkan pada prinsip transesterifikasi friedel-craft.Dengan menggunakan prinsip reaksi ini, hidrokarbon
rantai pendek dalam asam lemak seperti asam lemak dan asam kaproat yang
menyebabkan bau tidak enak, dapat diukur dengan rantai panjang yang bersifat tidak menguap (Anonim, 2010).
B. Faktor Kerusakan
Minyak
Faktor-faktor
kerusakan minyak akibat pemanasan menurut
Pasta (2011) adalah:
Pasta (2011) adalah:
1. Lamanya minyak kontak
dengan panas. Berdasarkan penelitian terhadap minyak jagung, pada pemanasan
10-12 jam pertama, bilangan iod berkurang dengan kecepatan konstan. Sedangkan
jumlah oksigen dalam lemak bertambah dan selanjutnya menurun setelah pemanasan
4 jam kedua berikutnya. Kandungan persenyawaan karbonil bertambah dalam minyak
selama proses pemanasan, kemudian berkurang sesuai dengan berkurangnya jumlah
oksigen.
2. Suhu, pengaruh suhu
terhadap kerusakan minyak telah diselidiki dengan menggunakan minyak jagung
yang dipanaskan selama 24 jam pada suhu 120˚C, 160˚C dan 200˚C. Minyak dialiri
udara pada 150ml/menit/kilo. Minyak yang dipanaskan pada suhu 160˚C dan 200˚C
menghasilkan bilangan peroksida lebih rendah dibandingkan dengan pemanasan pada
suhu 120˚C. Hal ini merupakan indikasi bahwa persenyawan peroksida bersifat
tidak stabil terhadap panas. Kenaikan nilai kekentalan dan indek bias paling
besar pada suhu 200oC karena pada suhu tersebut jumlah senyawa polimer
yang terbentuk relatif cukup besar.
3. Akselerator oksidasi.
Kecepatan aerasi juga memegang peranan penting dalam menentukan
perubahan-perubahan selama oksidasi termal. Nilai kekentalan naik secara
proporsional dengan kecepatan aerasi, sedangkan bilangan iod semakin menurun
dengan bertambahnya kecepatan aerasi. Konsentrasi persenyawaan karbonil akan
bertambahn dengan penurunan kecepatan aerasi. Senyawa karbonil dalam
lemak-lemak yang telah dipanaskan dapat berfungsi sebagai pro-oksidan atau sebagai
akselerator pada proses oksidasi.
Kerusakan minyak akan
mempengaruhi mutu dan nilai gizi bahan pangan yang digoreng. Minyak yang rusak
akibat proses oksidasi dan polimerisasi akan menghasilkan bahan dengan rupa
yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak enak, serta kerusakan sebagian
vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat dalam minyak. Oksidasi minyak
dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan
minyak.Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida dan hidroperoksida.Tingkat
selanjutnya adalah terurainya asam-asam lemak disertai dengan konversi
hidroperoksida menjadi aldehid dan 25 keton serta asam-asam lemak bebas.Ketengikan
(Rancidity) terbentuk olehaldehida bukan oleh peroksida. Jadi kenaikan Peroxide
Value (PV) hanya indikator dan peringatan bahwa minyak akan berbau tengik (Stier, 2001).
C. Total
Polar Materials
Minyak goreng yang telah digunakan untuk
menggoreng akan mengandung komponen polar yang umumnya disebut dengan materi
polar. Materi polar ini terbentuk diakibatkan adanya reaksi kimia kompleks pada
minyak goreng, seperti hidrolisa, oksidasi, dan polimerisasi. Materi polar ini
dapat dihitung dengan presentasi total pada setiap minyak hasil penggorengan
dengan simbol TPM. TPM dapat dijadikan sebagai salah satu parameter penentuan
kualitas minyak goreng ( Anwar, 2012).
Minyak goreng dengan kadar total total polar
material (TPM) sudah mencapai angka 24 - 27 persen (maximal 4 kali pemakaian)
seharusnya sudah tidak di pakai lagi. saat minyak goreng dipakai berulang -
ulang maka akan menimbulkan kadar senyawa- senyawa yang dapat merusak kualitas
minyak tersebut. Proses inilah yang membuat makanan mudah tengik. hal yang
dapat ditimbukan diantaranya kegemukan, darah tinggi, meningkatnya kolestrol
dan jantung koroner hingga kanker (Wahyuni, 2012).
TPM dapat digunakan sebagai penentu kerusakan
minyak karena semakin bertambahnya komponen polar pada minyak, maka akan
menyebabkan kerusakan pada minyak. Saat minyak mencapai suhu penggorengan dan
produk dimasukkan maka proses konversi dari trigliserida akan mulai terjadi.
Semakin lama proses penggorengan berlanjut minyak akan semakin rusak dan
komponen polar pada minyak akan semakin bertambah (Stier, 2001)
D. Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas (ALB) adalah suatu asam yang dibebaskan
pada proses hidrolisis lemak oleh enzim. Proses hidrolisis dikatalisis oleh
enzim lipase yang juga terdapat dalam buah, tetapi berada diluar sel yang
mengandung minyak. Jika dinding sel pecah atau rusak karena proses pembusukan
atau karena pelukaan mekanik, tergores atau memar karena benturan, enzim akan
bersinggungan dengan minyak dan reaksi hidrolisis akan berlangsung dengan cepat
sehingga membentuk gliserol dan asam lemak bebas. Pembentukan asam lemak bebas
juga dapat terjadi oleh adanya mikroorganisme pada keadaan lembab dan kotor
(Anonim, 2012).
Kadar asam lemak bebas yang memenuhi standar
mutu PKS adalah maksimal 3,5% dan untuk eksport (perdagangan) adalah maksimal
5%. Asam lemak bebas pada CPO didalam storage tank tidak dapat
dihilangkan, melainkan akan selalu bertambah terlebih dalam waktu penyimpanan
yang cukup lama. Jika kadar ALB pada CPO > 5%, maka CPO tersebut sudah
dinyatakan outspec atau melewati batas standar mutu dan tidak
layak untuk dipasarkan. ALB pada CPO outspec tersebut hanya dapat diturunkan
dengan cara melakukan blending(pencampuran) dengan CPO yang
memiliki kadar ALB rendah (CPO fresh), sehingga CPO outspec tersebut
tidak dibuang dan dapat dipasarkan kembali (Anonim, 2009).
Kombinasi lamanya pemanasan dan suhu yang
tinggi mengakibatkan terjadinya beberapa reaksi penyebab kerusakan minyak.
Reaksi-reaksi yang terjadi adalah hidrolisa, oksidasi dan polimerisasi. Asam
lemak bebas dihasilkan oleh proses hidrolisis dan oksidasi (Hariskal, 2009).
IV.
METODE
PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Aplikasi
Teknik Laboratorium tentang Analisis Asam Lemak Bebas yang dilaksanakan pada
hari Selasa, 09 September 2014, pukul 09.50-15.00 WITA di Laboratorium Kimia
Analisa dan Pengawasan Mutu Pangan, Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan,
Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin,
Makassar.
B. Alat
dan Bahan
Alat-alat yang
digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
·
labu Erlenmeyer
·
timbangan analitik
·
gelas ukur
·
alat ukur TPM
·
hotplate
·
termometer
·
deteksi materi polar
·
timbangan analitik
·
aluminium foil
·
pipet volume
Bahan-bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
·
alkohol
·
minyak goreng bermerek
·
minyak jelantah (
pasar )
·
minyak rumah makan
·
minyak rumahan
·
NaOH 0,1 N
·
Indikator PP
·
Kloroform
·
Yodium bromida
·
KI 15 %
C, Prosedur Kerja
Pengujian asam lemak bebas
Prosedur yang dilakukan untuk menguji asam lemak bebas pada
praktikum ini yaitu :
a. Bahan
ditimbang sebanyak 5 gram menggunakan timbangan analitik.
b. Dimasukkan
ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 50 ml alkohol netral.
c. Bahan
kemudian dipanaskan sampai larutan mendidih menggunakan hot plate.
d. Setelah
mendidih bahan diangkat kemudian didinginkan dalam wadah.
e. Setelah
dingin bahan kemudian ditetesi dengan indikator pp 2 ml.
f. Bahan
dititrasi dengan larutan NaOH sampai larutan berubah warna.
g. Dicatat jumlah larutan NaOH
yang digunakan kemudian dihitung kadar ALB dengan menggunakan rumus berikut
kadar
ALB = 
Pengujian Total Polar
Material (TPM) :
Pengukururan kandungan materi polar dilakukan
dengan menggunakan alat TPM meter konstanta dielektrik sebagai berikut :
a.
Sampel minyak
dipanaskan minimal 50oC
b.
Alat ukur TPM
(konstanta dielektrik) dimasukkan kedalam minyak sampai semua sensor terendam
c.
Alat ukur dinyalakan
dan ditunggu 10 detik
d.
Dicatat kandungan TPM
yangn muncul pada display alat ukur
Pengujian iod
a.
Sampel
ditimbang 0,3 gr
b.
Ditutup
dengan aluminium foil
c.
Ditambahkan
klorofom 10 mL , KI 15 % dan 75 mL aquades yang telah didihkan.
d.
Dititrasi
segera dengan Na2S2O3 0,1 M sampai berwarna kuning pucat
e.
Ditambahkan
2 mL larutan pati
f.
Lanjut
titrasi sampai warna biru hitam.
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil dari praktikum evaluasi mutu pangan
berdasarkan minyak yang digunakan disajikan dalam bentuk tabel.
|
NO
|
Sampel
|
ALB
|
TPM
|
IOD
|
|
1
|
Minyak goreng bermerek
|
0,0353 %
|
11,5
%
|
72,923
|
|
2
|
Minyak goreng pasar
|
0,119%
|
10,5
%
|
63,4381
|
|
3
|
Minyak goreng rumah makan
|
0,196%
|
38,0
%
|
64,8459
|
|
4
|
Minyak goreng rumahan
|
0,0695%
|
13,0
%
|
60,82
|
Sumber : Data Sekunder Praktikum Aplikasi
Perubahan Kimia Pangan, 2014.
B.
Pembahasan
1.
Asam
Lemak Bebas
Asam lemak bebas adalah asam lemah yang
terbentuk akibat proses hidrolisis yang terjadi pada lemak sehingga
menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas. Pada praktikum dilakukan uji kadar
asam lemak bebas (ALB) pada masing-masing sampel. Dari hasil data di atas
didapati bahwa kadar asam lemak tertinggi terdapat pada minyak goreng rumah
makan yaitu sebesar 0,196% dan kadar asam lemak
terendah terdapat pada minyak goreng bermerek
Total Polar Materials (TPM)
Hasil dari kandungan materi polar yang diuji di laboratorium
yaitu sampel pertama yaitu minyak goreng bermerek sebesar 11.5%. sampel ke-2
yaitu minyak goreng pasar sebesar 10,5%. Sampel ke-3 yaitu minyak goreng rumah
makan sebesar 38.0%. Sampel ke-4 yaitu minyak penggorengan rumah diatas 15%..
Berdasarkan data di atas diperoleh bahwa kandungan total polar material tertinggi
adalah sampel ke-3 yaitu 38 % dan kandungan total polar material terendah
adalah sampel ke-2 yaitu minyak curah sebesar 10.5%. Ini menunjukan bahwa
minyak goreng pasar memiliki kadar TPM yang rendah dan masih aman untuk di
konsumsi. Hal ini sesuai dengan (Wahyuni, 2012) kadar total polar material (TPM) tinggi jika sudah mencapai
total 24-30% .
§ Faktor kerusakan
minyak
Hasil dari uji coba laboratorium menunjukan bawa sampel yang
mengalami tingkat kerusakan minyak paling tinggi adalah sampel ke-2 yaitu
minyak goreng rumah makan, yang memiliki ALB sebesar 0.196% dan TPM sebesar
38,0%. Dan sampel yang tingkat kerusakannya paling rendah adalah minyak
bermerek karena hanya memiliki kandungan ALB sebesar 0.0353% dan TPM 11,5%.
Kerusakan minyak yang terjadi pada sampel disebabkan karena pemakaian yang
berulang-ulang pada minyak. ALB dikatakan sebagai indikator penentu kerusakan
minyak karena ALB merupakan hasil dari proses hidrolisis dan oksidasi, yaitu
proses penyebab kerusakan minyak. Hal ini sesua dengan (Hariskal, 2009) yang
menyatakan bahwa kombinasi lamanya pemanasan dan suhu yang tinggi mengakibatkan
terjadinya beberapa reaksi penyebab kerusakan minyak. Reaksi-reaksi yang
terjadi adalah hidrolisa, oksidasi dan polimerisasi. Asam lemak bebas dihasilkan
oleh proses hidrolisis dan oksidasi.
TPM dapat pula digunakan sebagai penentu kerusakan minyak karena
semakin bertambahnya komponen polar pada minyak, maka akan menyebabkan
kerusakan pada minyak. Hal ini sesuai dengan (Stier, 2001) yang menyatakan bahwa pada saat minyak mencapai
suhu penggorengan dan produk dimasukkan maka proses konversi dari trigliserida
akan mulai terjadi. Semakin lama proses penggorengan berlanjut minyak akan
semakin rusak dan komponen polar pada minyak akan semakin bertambah.
§ Mutu minyak goreng
yang baik
Berdasarkan dari hasil pengujian Asam Lemak Bebas, Total Polar
Material, dan organoleptik, maka didapati bahwa dari keenam sampel yang
memiliki mutu minyak goreng baik adalah sampel ke-1 yaitu minyak goreng
bermerek, karena hanya memiliki ALB sebesar 0.0353%, TPM 11.5% dan secara fisik
minyak goreng bermerek lebih jernih dibandingkan kelima sampel lainnya. Hal ini
sesuai dengan (Anwar, 2012) yang menyatakan bahwa penggunaan minyak goreng
berulang kali memperbesar potensi terkena kanker. Minyak goreng dengan kadar
total total polar material (TPM) sudah mencapai angka 24 - 27 persen ( max. 4
kali pemakaian) seharusnya sudah tidak di pakai lagi.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum Evaluasi Mutu Pangan Berdasarkan Minyak Goreng yang
Digunakan, yaitu mutu minyak goreng segar dan minyak hasil pemakaian
penggorengan bahan pangan dapat diketahui dengan melakukan uji Asam Lemak Bebas
(ALB) dan Total Material Polar (TPM) yang dikandung minyak goreng tersebut.
Minyak goreng yang paling baik adalah minyak goreng yang rendah kadar asam
lemak bebas (maksimal 0,3%) dan materi polarnya (maksimal 30,0%). Sedangkan
minyak goreng yang paling rendah mutu dan bahkan tidak layak konsumsi adalah
minyak goreng yang mengandung asam lemak bebas >0,3% dan materi polar >30,0%.
B. Saran
Saran yang dapat kami berikan untuk praktikum Aplikasi Perubahan
Kimia Pangan (APKP) selanjutnya adalah sebaiknya sebelum melaksanakan
praktikum, praktikan perlu mengetahui dan memahami dengan baik prosedur kerja
terlebih dahulu. Agar praktikum dapat berjalan dengan baik dan kesalahan dalam
pengujian dapat diminimalisir. Praktikan juga harus memahami tujuan dari
praktikum supaya hasil yang didapatkan maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009. Asam Lemak Bebas. http://www.google.com. Diakses pada tanggal 20 September 2013,
Makassar.
Anonim, 2010. Sifat Kimia Minyak. http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CCgQFjAA&url=http%3A%2F%2Frepository.ui.ac.id%2Fcontents%2Fkoleksi%2F16%2F141f67d2cd5b3b4f493dcbcdfcb2b85c53b98219.pdf&ei=5Ug8UsLGC8XUrQetzYDgDA&usg=AFQjCNF9MkiEngw-vcR6YdJ2BKRXg5Bung&sig2=ewMij-pKej7iZEDntMtucw&bvm=bv.52434380,d.bmk. Diakses pada tanggal 20 September, 2013,
Makassar.
Anonim, 2011. Minyak Goreng.http://repository.usu.ac.id/bitstream/
123456789/20973/4/Chapter%20II.pdf. Diakses pada tanggal 20 September 2013, Makassar
123456789/20973/4/Chapter%20II.pdf. Diakses pada tanggal 20 September 2013, Makassar
Anonim, 2012. Kadar Asam Lemak Bebas.http://www.psychologymania.com/2012/10/asam-lemak-bebas.html.Diakses pada tanggal 15 September 2013,
Makassar.
Anwar, Reskiati Wiradhika. 2012. Studi Pengaruh Suhu dan Jenis Bahan Pangan Terhadap Stabilitas
Minyak Kelapa selama Proses Penggorengan.http://repository.unhas.ac.id/bistream/handle/123456789/1951/RESKIATI%20WIRADHIKA%20%ANWAR%20(G%20611%2008%20276)docx?sequence.Diakses pada tanggal 20 September 2013,
Makassar.
BSN, 1995.Minyak Goreng. SNI 01-3741-1995. Badan Standarisasi Nasional.
Citra, 2007. Jenis-jenis minyak. http://citra.wordpress.com/2009/05/09/
kerusakan-minyak-goreng/.
Diakses pada tanggal 15 September 2013, Makassar.
Cemerlang, 2013.
Genisa, Jalil. 2013.Teknologi Minyak dan Lemak Pangan.
Masagena Press: Makassar
Hariskal, 2009. Kerusakan Minyak
Goreng. http://hariskal.wordpress.com/
2009/05/09/kerusakan-minyak-goreng/. Diakses pada tanggal 15 September 2013, Makassar.
Pasta, 2011. Evaluasi Mutu Pangan
Menggunakan Minyak Goreng. http://pasta-bbkdl.blogspot.com/2011/12/i.html.Diakses pada tanggal 20 September 2013,
Makassar.
Stier, R. F. 2001. Finding Functionality in Fat and Oil.www.preparedFood.com.Diakses pada 29
September 2013, Makassar.
Wahyuni, Tri. 2012. Ingin Sehat? Hindari Minyak Jelantah.
http://yuniberbagicerita.blogspot.com/2008/08/ingin-sehat-hindarin-jelantah.
html.diakses pada tanggal 20 September 2013, Makassar.
http://yuniberbagicerita.blogspot.com/2008/08/ingin-sehat-hindarin-jelantah.
html.diakses pada tanggal 20 September 2013, Makassar.
